Kasus Procurement : Penunjukan langsung TPS Ex Ps. Turi Sby

Fokus Mekanisme Penunjukan Langsung

Polisi Periksa Dua Bos Kontraktor TPS Pasar Turi

SURABAYA – Dugaan penyimpangan proyek pembangunan tempat penampungan sementara (TPS) Pasar Turi semakin menguat. Kepada penyidik, dua pimpinan kontraktor PT Nindya Karya (NK) dan PT Pembangunan Perumahan (PP) mengakui bahwa proyek tersebut tidak melalui tender, tapi penunjukan langsung.

Kedua bos perusahaan pelaksana proyek itu adalah Ir Taufik Arya Saptadi dan Respati Hari Winarno. Taufik menjabat direktur utama (Dirut) PT PP dan Hari selaku Dirut PT NK. Kemarin (3/9) keduanya memberikan kesaksian di Polda Jatim. Dalam pemeriksaan tersebut, status Taufik dan Hari baru sebatas saksi. “Kami masih perlu melakukan analisis untuk menetapkan tersangka,” kata Kasatpidkor Polda Jatim AKBP I Nyoman Komin.

Dia menambahkan, pemeriksaan Taufik dan Hari memang menguatkan dugaan adanya penyimpangan dalam proyek Rp 18,8 miliar tersebut. Sebab, keduanya mengakui menerima proyek itu dengan penunjukan langsung. Padahal, proyek yang nilainya di atas Rp 50 juta harus melalui lelang.

Taufik dan Hari mengatakan, penunjukan langsung itu dilakukan ketika mereka menawarkan diri sebagai pelaksana proyek. Penunjukan tersebut tidak dilakukan langsung oleh wali kota, melainkan oleh pejabat pembuat komitmen yang saat itu dipegang Heri Sinurat. Namun, penunjukan yang dilakukan Heri tersebut merupakan perintah dari Wali Kota Bambang D.H.

Dalam beberapa kesempatan, orang nomor satu di Pemkot Surabaya itu mengakui bahwa proyek pembangunan TPS Pasar Turi dilaksanakan tanpa tender dengan alasan situasi darurat. Artinya, keterangan Taufik dan Hari kepada polisi benar-benar klop dengan ucapan wali kota.

Selain menanyakan proses penunjukan, ada beberapa hal lain yang ditanyakan penyidik kepada Taufik dan Hari. Di antaranya, temuan pedagang tentang adanya perbedaan spesifikasi material yang digunakan untuk pembangunan TPS. Contohnya, besi. Seharusnya, kontraktor memasang besi dengan diameter 10-12 milimeter. Namun, di lapangan ditemukan fakta bahwa diameter besi hanya 6-8 milimeter. ”Kami juga sudah tanyakan hal itu,” ujar Komin.

Taufik dan Hari mengakui, mungkin ada perbedaan spesifikasi dalam penggunaan material. Namun, hal itu di luar kesengajaan. ”Material dibeli secara borongan. Sehingga, mungkin ada besi yang ukurannya tidak sama. Itu pengakuan mereka saat diperiksa. Mereka mengaku tidak sengaja,” terang perwira dengan dua logo mawar di pundak itu.

Dugaan penyimpangan lain yang ditanyakan penyidik adalah seputar waktu pelaksanaan proyek. Seharusnya, proyek tersebut selesai dalam tempo dua bulan. Yakni, mulai 4 Oktober hingga 4 Desember. Namun, kenyataannya, proyek itu molor hingga satu tahun.

Ketika mendapatkan pertanyaan itu, kedua bos kontraktor tersebut lagi-lagi mengelak. Mereka berpendapat bahwa molornya pembangunan tersebut disebabkan faktor nonteknis. Yakni, pengosongan lahan yang habis terbakar hebat.

Keterangan Taufik dan Hari itu tak hanya membuat mereka terkesan mengelak dari tuduhan penyelewengan. Ketika diperiksa, pernyataan keduanya juga tidak klop dengan versi surveyor PT Sucofindo. Misalnya, soal persentase pengerjaan proyek. Kepada polisi, PT PP mengklaim sudah menyelesaikan 92 persen dan PT NK selesai mengerjakan 70 persen. Padahal, hasil survei Sucofindo, PT PP baru menyelesaikan 69 persen dan 62 persen sudah dikerjakan PT NK. (fid/fat)

From

www. jawapos.com

Metropolis

Kamis 4 September 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s